International Lecture with Prof. Sung-kyun Kim (Seoul National University)

International Lecture with Prof. Sung-kyun Kim (Seoul National University)

Program Arsitektur Lanskap ITERA mengadakan Kuliah Interasional 2020, dengan mendatangkan dosen tamu dari Seoul National University, Korea, Prof. Sung-Kyun KIM, Ph.D. Dalam tema “Urban Regeneration with pedestrian -otiented streetscape design the case of Deoksugung -Gil in Seoul, Korea” yang diadakan pada Selasa, 25 Februari 2020 bertempat di Aula Gedung C Institut Teknologi Sumatera.

Acara di awali dengan Sambutan dan Laporan dari Rektor ITERA yang diwakili oleh Ketua Jurusan Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan ITERA Dr. Rahayu Sulistyorini, S.T., M.T.,  dan dilanjutkan dengan sambutan dari Sekretaris Program Studi Arsitektur Lanskap ITER Anggi Mardiyanto, S.P., M.Si.

Kuliah Internasional ini dihadiri oleh Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura, BAPPEDA Kota Bandar Lampung, Dinas Pertanian Kota Bandar Lampung, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kota Bandar Lampung, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman Kabupaten Lampung Tengah, Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI) Pengurus Kota Bandar Lampung, serta mahasiswa dan dosen Program Studi Arsitektur Lanskap, Arsitektur, Perencanaan Wilayah Kota (PWK) ITERA

Didalam Kuliah ini Prof. kim mengatakan bahwa, Beberapa tahun lalu kondisi di Seoul Korea Selatan sama seperti di Indonesia. Kasus-kasus seperti traffic problems dan pejalan kaki yang kurang dan masalah terkait sungai. Ada sebuah jalan yang terletak di Seoul, Korea Selatan yang bernama Deoksugung-gil. Prof.kim memenangkan lomba desain lanskap yang dilaksanakan beberapa tahun yang lalu. Dalam kutipannya yang berbunyi “We must keep historical places there”

Prof.kim menggunakan shared street concept dalam mendesain sehingga orang-orang dapat berjalan sesuka hati dan mobil-mobil hanya boleh melewati jalan tanpa boleh melaju dengan cepat. Dengan kata lain manusia dan kendaraan berbagi jalan bersama.

Pendekatan yang dilakukan Profesor Kim ada dua, untuk pondasi streetscape supaya kendaraan dapat mengurangi kecepatan. Prof.kim juga menggunakan thematic concept. Untuk membuat sharred street, kendaraan tidak boleh melaju cepat di jalan yang sudah disediakan. Dengan beberapa peringatan Kendaraan yang lewat jalan tersebut akan otomatis menurunkan kecepatannya karena sudah dipasangi beberapa rambu. Profesor menempatkannya di beberapa titik. Untuk mengurangi kecepatan dan volume mobil, profesor memutuskan untuk merubah jalan menjadi one-way. Untuk mempertahankan pepohonan yang memiliki nilai sejarah sendiri. Ada beberapa jalan tertentu yang memiliki ciri khas. Pos control memiliki desain yang berbeda-beda di setiap kota dan memiliki ciri khas sendiri. Supaya semua desain dapat dinikmati. jika dahulu dipakai untuk tempat parkir, maka kini diubah menjadi taman agar pedestrian dapat lebih nyaman saat berjalan. Mendesain paving juga diperlukan kehati-hatian karena termasuk ke dalam seni dalam arsitektur lanskap.

Desain harus dapat di nikmati oleh semua orang. Terutama untuk penyandang disabilitas. Agar kendaraan tetap berjalan tetapi pejalan kaki tidak terganggu, maka dibuat pedestrian street yang berada di luar jalur kendaraan dan ditanam beberapa pohon yang warna daunnya kuning. Dahulu ada sebuah gapura yang konon katanya jika dilewati maka pasangan akan berpisah, tetapi profesor membuat sebuah jalan dengan pohon berkanopi dan memiliki tujuan agar pasangan dapat terus bersama. Dengan desain yang menarik, pedestrian dapat menjadi penggerak dalam berbagai sarana. Dari sosial hingga bersifat komersial. Ketika malam hari juga dapat dinikmati. Pedestrian juga bisa digunakan dlalam banyak ranah, sosial, ekonomi sampai budaya. Dalam mendesain pedestrian melibatkan banyak pihak. Di Korea Selatan pedestrian way digunakan juga dalam ranah politik. Pemilihan walikota di Korea Selatan menggunakan pedestrian way untuk kampanye.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *